Skip to main content

Kisah Perang Uhud Part #4, Pertempuran Berkecamuk

Pertempuran Berkecamuk Di Perang Uhud

Fakta Islam - Detik-detik peperangan di Uhud kian mendekat, pasukan Muslim dan musyrik telah saling berhadapan. Jumlah mereka tidak seimbang. Pasukan musyrik sebanyak 3.000 orang, sedangkan pasukan Muslim hanya 700 orang.

Namun tak ada rasa gentar di wajah kaum Muslim. Sementara di hadapan mereka, tatapan penuh dendam terlihar di mata pasukan musyrik. Debu-debu beterbangan diembus angin. Suara ringkik kuda dan denguh unta bercampur dengan dengus napas dari kedua kubu.

Baca Part #5 Kisah Perang Uhud, Penyebab Hamzah bin Abdul Muthallib Terbunuh

Ketegangan memuncak, berlahan tapi pasti, kedua pasukan bergerak mendekat. Kian lama jarak mereka bertambah dekat. Pedang-pedang mereka telah terhunus, siap untuk dihunjamkan ke tubuh lawan. 

Suasana tiba-tiba menjadi hening mencekam. Hanya desir angin padang pasir yang terdengar. Pertempuran akhirnya pecah. Semua sudut Uhud menjadi lokasi pertarungan sengit antar dua kubu. 

Pertempuran paling menegangkan terjadi di sekitar panji pasukan musyrik. Thalhah bin Thalhah al-Abdari, pembawa panji pasukan musyrik, maju memecah keheningan. 

Ia adalah seorang laskar berkuda yang paling berani dari kalangan Quraisy. Kudanya dihela mendekati barisan terdepan pasukan Muslim. Dari atas kudanya, ia menantang kaum Muslim untuk bertarung satu lawan satu. 

Tantangan itu segera dijawab oleh Zubair bin Awwam. Ia melompat laksana singa dengan untanya. Zubair dan Thalhah saling berhadapan. Suara pedang yang beradu terdengar. keduanya terlibat pertarungan seru. 

Sementara ribuan pasang mata menyaksikan dengan harap cemas. Zubair mulai berada di atas angin. Kini la memegang kendali pertempuran, ayunan pedangnya mulai mendesak Thalhah. Dalam sebuah kesempatan, pedang Zubair rapat menghunjam tubuh Thalhah. 

Seketika itu juga Thalhah jatuh dari kudanya. Tubuh yang telah tak bernyawa itu terjerembap menghunjam bumi, bersimbah darah. Rasulullah ﷺ yang terus mengamati pertarungan rersebut langsung mengumandangkan takbir menyambut kemenangan Zubair. 

"Allahu Akbar. Allahu Akbar.!" 

Pekik itu segera disambut dengan takbir pula oleh pasukan Muslim. "Allahu Akbar...." Uhud bergemuruh. Asma Allah bergema tak terbendung. 

Kaum musyrik kian marah, mereka tak terima dengan kekalahan Thalhah. Kedua pasukan bergerak maju, perang pun pecah di beberapa titik. 

Khalid bin Walid yang belum masuk Islam, menjadi pemimpin pasukan kuda Quraisy. Ia berusaha sebanyak tiga kali menerobos bagian belakang barisan kaum Muslim, tetapi selalu gagal karena dihadang oleh pasukan pemanah. 

Hamzah bertarung dengan gigih, Ia berhasil membunuh cukup banyak prajurit musyrik dengan sabetan pedangnya. Tak salah jika Hamzah dijuluki "Singa Padang Pasir".

Di sebuah titik pertempuran, terlihat Thalhah bin Ubaidillah sedang bertarung hebat. Thalhah bertempur dengan sangat gigih. Konon, dia bertempur dengan menggunakan dua buah pedang. Dialah pahlawan Islam yang pernah berkata, 

"Demi Allah, tidak sejengkal pun tubuhku yang bersih dari tebasan, tusukan, atau hunjaman anak panah." 

Tangan kanannya putus oleh tebasan pedang musuh, tetapi dia terus bertempur dengan tangan kiri, dan akhirnya dia roboh. Thalhah menjadikan tubuhnya sebagai pijakan Rasulullah ﷺ, sehingga beliau dapat naik ke atas batu cadas (HR. Bukhari). 

Di titik pertempuran lainnya, pak 'Amru bin al-Jumuh yang berasal dari Anshar. Ia bertarung dengan gagah berani tak meski harus berjalan hanya dengan satu kaki karena cacat yang dideritanya. 

Sebenarnya Rasulullah ﷺ telah memberi keringanan kepadanya, seperti termaktub dalam al-Qur'an, bahwa orang-orang yang cacat tidak berdosa bila tidak ikut berperang. Namun, "Amru bin al-Jumuh menampiknya.

"Demi Allah, aku akan berperang dan aku akan menginjakkan kakiku di surga ditemani tongkat ini." Amru bin al-Jumuh akhirnya gugur.

Dalam sebuah riwayat, Abu Qatadah menuturkan, "Amru bin al-Jumuh datang menghadap Rasulullah ﷺ, lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku seandainya aku ikut berperang di jalan Allah hingga aku terbunuh, apakah di surga nanti aku dapat berjalan dengan tegak di atas kakiku ini?" tanya Amru. 

"Benar," jawab Rasulullah ﷺ. Ternyata jawaban nabi Muhammad ﷺ benar. Dalam Perang Uhud, 'Amru bin al-Jumuh gugur bersama seorang kemenakan dan pelayannya. Keduanya meninggal sebagai syuhada Uhud. 

Ketika Rasulullah ﷺ melewati jenazah mereka, beliau berkata, "Aku seakan melihatmu berjalan dengan tegak di kakimu ini." Rasulullah ﷺ memerintahkan di atas surga agar ketiga syahid itu dimakamkan dalam satu kubur (HR. Ahmad).

Di titik pertempuran lainnya, Abu Dujanah terlihat begitu bersemangat bertarung melawan musuh. Dia meraih kain pengikat kepala berwarna merah lalu memakainya. Kemudian dia mencabut sarung pedang dan setelah itu mematahkan dengan lututnya. 

Kini pedangnya telah terhunus, siap menebas lawan. Pedang itu dihantamkan ke kiri dan ke kanan untuk membabat musuh hingga pedang tersebut bengkok. Sambil beraksi, dia melantunkan syair penuh semangat. 

Kekasihku berjanji setia kepadaku
Saat kami di lembah, 
Di rerimbunan batang kurma
Agar aku tidak selalu di barisan terbelakang 
Memukul musuh dengan pedang Ilahi dan Rasul-Nya.

termangu kaum Muslim berkonsentrasi menyerang pembawa panji kaum musyrik, hingga akhirnya para pembawa panji musyrik yang berjumlah 11 orang terbunuh semua. 

Akhirnya panji itu jatuh ke tanah setelah tak ada lagi prajurit musyrik yang membawa panji-panji itu. Pasukan Islam semakin mempertajam serangannya pada titik-titik yang masih tersisa hingga akhirnya dapat mencerai-beraikan pasukan Quraisy. 

Mereka lari tunggang langgang, termasuk para wanita yang menyemangati mereka. Untuk kesekian kalinya, kaum Quraisy kalah.


Editor: faktaislam.com

Ref: DR.Ahmad Hatta, MA. dkk. 

Kol: MagfiraPustaka

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar