Skip to main content

Kisah Perang Uhud Part #3, Rasulullah ﷺ Membuat Strategi Berperang

Strategi Perang Uhud

Fakta Islam - Strategi Perang Rasulullah ﷺ, mereka terus melangkah maju menuju Gunung Uhud yang berjarak beberapa mil dari Madinah. Madinah sendiri dikelilingi oleh gunung. Satu-satunya jalan masuk menuju Uhud harus melewati daerah liar (kawasan berbatu yang curam dan sulit dilewati pasukan dan kuda).

Rasulullah ﷺ bersama pasukannya menuju Uhud dengan memotong jalan, sehingga bisa meninggalkan musuh di sisi Barat. Rasulullah ﷺ memutuskan berhenti di Syi'ib, di celah lembah yang membelakangi Bukit Uhud. Ini dilakukan agar posisi musuh berada di tengah antara mereka dan Madinah.

Baca Part #4 Kisah Perang Uhud, Pertempuran Berkecamuk

Rasulullah ﷺ lalu membentuk barisan pasukan Muslim dalam satu baris dengan jarak paling dekat antara Gunung Uhud dan dikenal dengan Bukit Ainain. Pasukan sayap kanan bertempat di kaki gunung, di bawah pimpinan `Abdullah bin Jabir, sedangkan pertahanan sayap kiri Rasulullah ﷺ menempatkan 50 pemanah andal di atas Bukit Rummat. 

Bukit Rummat atau yang tempat di kaki gunung, Rasulullah ﷺ memerintahkan agar menjaga bagian belakang kaum Muslim dengan tidak meninggalkan tempat mereka hingga ada perintah. 

Apa pun kondisinya, menang atau kalah. "Lindungi kami. Seandainya kalian melihat kawanan burung dari langit menyambar kami, jangan pernah kalian turun dari bukit ini!" pesan Rasulullah ﷺ (HR. Bukhari). 

Sebelum perang, Rasulullah ﷺ juga sempat bertanya kepada kaum Muslim, "Siapakah yang akan membawa pedangku ini sekalian dengan haknya?" 

Para sahabat bertanya, "Apakah haknya itu, wahai Rasulullah ﷺ?" 

Rasulullah ﷺ menjawab, "Haknya adalah pedang iní dipergunakan sampai bengkok, untuk menghantam musuh." 

"Aku yang akan mengambilnya, wahai Rasulullah, dan aku akan memenuhi haknya," kata Abu Dujanah. Ia adalah lelaki Anshar yang pemberani. Diriwayatkan, Abu Dujanah pernah menjadikan tubuhnya sebagai perisai untuk melindungi Nabi ﷺ dari hujan bola api musuh. 

Bola-bola jatuh mengenai punggung Abu Dujanah. Tubuhnya merapat dengan tubuh Nabi dapat menutupi tubuh beliau (as-Sirah an-Nabawiyyah). 

Di sisi lain, pasukan musyrik juga mempersiapkan diri. Mereka maju ke medan perang dengan disemangati perempuan-perempuan dari kaum mereka. Para wanita itu berkeliling di barisan pasukan sambil menabuh genderang dan membakar semangat para kesatria dengan menyenandungkan syair:

Jika kalian maju kan kami peluk mesra Akan kami hamparkan kasur nan empuk Jika kalian mundur kami kan berpisah Perpisahan tanpa akan kembali Hayo, majulah Bani Abdu ad-Darr Wahai pelindung barisan belakang Tebaskan pedang tanpa gentar.


Editor: faktaislam.com 

Ref: DR.Ahmad Hatta, MA. dkk. 

Kol: MagfiraPustaka

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar