Skip to main content

Kisah Perang Uhud Part #2, Rasulullah ﷺ Bermusyawarah Dengan Para Sahabat

Kisah Perang Uhud Part #2, Rasulullah ﷺ Bermusyawarah

Fakta Islam - Suasana Madinah semakin mencekam, seluruh penduduk disibukkan persiapan menghadapi perang. Nabi Muhammad ﷺ segera melakukan latihan militer dengan pasukannya. Selain itu, Rasulullah ﷺ bermusyawarah dengan para sahabat di masjid. 

Rasulullah ﷺ bertanya, "Apakah hendak menghadapi musuh di luar atau bertahan di dalam kota?"

Baca Part #3 Kisah Perang Uhud, Rasulullah ﷺ Membuat Strategi Perang

Rasulullah ﷺ akhirnya memutuskan untuk bertahan di dalam kota dengan pertimbangan taktik tersebut akan lebih optimal. Pasukan akan ditempatkan di atas loteng dan atap rumah (Ibnul Qayyim, Zad al-Ma ad). 

Pendapat itu mendapat dukungan dari sebagian orang, termasuk pemimpin orang-orang munafik, `Abdullah bin Ubai bin Salul. Ia setuju karena hanya ingin duduk di rumah sehingga akan menghindarkan tuduhan tidak ingin berperang. 

Lain hal dengan para pemuda yang semangatnya sedang membara setelah pulang dari Perang Badar. Mereka tidak setuju dengan pendapat Rasulullah ﷺ. 

Mereka beramai-ramai keluar masjid dan memasang lencana bulu di dada. Bagi orang Arab, lencana bulu itu bukan pertanda kemenangan, melainkan kematian. Ada pula yang memasang lencana itu dengan cara menyelipkannya di atas serban. 

Seorang pemuda berseru dengan suara meledakledak dari barisan belakang, sementara Nabi ﷺ di atas mimbar dan jamaah sedang duduk. 

"Wahai Rasulullah, jangan engkau menghalangiku untuk masuk surga!" teriak pemuda itu. 

"Engkau ingin masuk surga dengan apa?" tanya Rasulullah ﷺ dari atas mimbar. 

"Aku mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan tidak melarikan diri saat perang berkecamuk." 

Beberapa orang pemuda yang lain dari kalangan Muhajirin dan Anshar ikut bicara. 

"Wahai Rasulullah, janganlah engkau melarang kami untuk mati sebagai syahid. Kami mesti berangkat ke Uhud. Bagaimana kami bisa berdiam diri di dalam kota, sementara ternak kami, unta dan sapi kami dirampas musuh?" 

"Kita akan berangkat!" ujar Rasulullah ﷺ. Beliau turun dari mimbar sedangkan orang-orang masih terduduk. Nabi ﷺ masuk rumah, mandi dan mengenakan baju besi lalu kembali ke masjid dan duduk di atas mimbar. 

Para sahabat menghampirinya seraya bertanya, "Mungkin kami memaksamu, wahai Rasulullah!" "Tidak pantas bagi seorang nabi apabila dia telah mengenakan baju besinya lalu dia melepasnya lagi, hingga Allah melakukan urusan yang mesti dilaksanakan," kata Nabi  ﷺ (HR. Ahmad). 

Rasulullah ﷺ tidak egois meski beliau adalah seorang pemimpin. Nabi ﷺ akhir"ya mengalah dengan mengikuti pendapat para pemuda yang mengusulkan untuk keluar Madinah dan berperang di lapangan terbuka. 

Nabi ﷺ membagi pasukan ke dalam tiga batalion: 

  1. Kelompok Muhajirin, panji pasukan dibawa oleh Mush'ab bin 'Umair; 
  2. Kelompok Aus, panjinya dibawa oleh Usaid bin Hudhair; dan
  3. Kelompok Khazraj, panji pasukan dibawa oleh Hubbab bin al-Mundzir. 

Setelah shalat Ashar mereka berangkat menuju Uhud. Setelah sampai di Syaikhan, Rasulullah ﷺ melakukan inspeksi pasukan.

Beliau melihat masih ada anak-anak kecil yang ikut dalam pasukan. Rasulullah ﷺ lalu memulangkan mereka. Hanya Rafi bin Khudaij yang diizinkan berperang karena dia pintar melempar anak panah. 

Samurah bin Jundub tak menyetujui keputusan Rasulullah ﷺ. "Saya lebih kuat daripada dia! Saya mampu mengalahkannya dalam bergulat!" katanya. 

Mendengar itu, Rasulullah ﷺ memerintahkan kedua anak kecil itu untuk bergulat. Ternyata Samurah mampu mengalahkan Rafi, sehingga Rasulullah ﷺ pun mengizinkannya pula. 

Saat di Syaikhan, Rasulullah ﷺ melakukan shalat Maghrib dan Isya`. Beliau bersama pasukannya juga menginap di sana. Lima puluh orang dipilih Rasulullah ﷺ untuk berjaga-jaga di tempat pasukan. 

Ketika tengah malam tiba, pasukan Muslim beranjak dari tempat itu sebelum Subuh menjelang. Rasulullah ﷺ melakukan shalat Subuh di Syauth. Di tempat inilah Abdullah bin Ubai bin Salul melakukan pembangkangan. 

Dia balik ke Madinah dengan mengajak 300 sahabatnya. "Dia (Rasulullah ﷺ) tidak menuruti pendapat kami. Mengapa kalian berangkat ke Uhud jika hanya untuk menyerahkan nyawa? Andai kalian tetap di Madinah, itu akan lebih baik," kata Abdullah bin 'Ubai. 

Sementara itu, Abdullah bin "Amru bin Haram al-Anshari mendatangi Abdullah bin Ubai. Dia menaburkan debu ke muka Abdullah bin Ubai bersama 300 orang pengikutnya. Dia mengancamnya dengan azab Allah.

"Jangan gagalkan niat kaum Muslim dan jangan membuat mereka mundur!" kata "Abdullah bin `Amru bin Haram al-Anshari. 

Abdullah bin Ubai tidak mengindahkan peringatan tersebut. Ia berkeras untuk tidak meninggalkan Madinah bersama 300 orang pengikutnya (Ibnu Hisyam). 

Kabilah Bani al-Harits dan Bani Salamah hampir-hampir ikut mengundurkan diri. Sambil memandang Abdullah bin Ubai, mereka berkata

"Dia dari kalangan dikekami dan sahabat kami. Pendapat yang dikemukakannya, barangkali itulah yang benar." 

Semula mereka berniat untuk kembali ke Madinah bersama `Abdullah bin Ubai, tetapi Allah melindungi mereka. 'Abdullah bin `Amru bin Haram bangkit dan berkata, 

"Kami tidak akan mengikuti ajakannya sampai kapan pun." Panglima pasukan pemanah, 'Abdullah bin Zubair, ikut pula mempertanyakan tanggung jawab mereka atas nama Allah dan memperingatkan mereka akan azab-Nya. 

Akhirnya kedua kabilah itu memutuskan untuk berangkat ke Uhud bersama Rasulullah ﷺ. Allah swt berfirman:

Ketika dua golongan dari pihakmu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong mereka. (QS. Ali-Imran 3: 122 ). 

Jabir bin Abdullah berkata, "Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, bahwa apa yang mereka kehendaki itu hanya sebatas keinginan, karena setelah itu Allah swt berfirman, 'Padahal Allah adalah penolong mereka'.Aku terdiam, kemudian berlalu." 

Jumlah pasukan Muslim yang terus bergerak menuju Uhud tersisa 700 orang. Rasulullah ﷺ ingin agar pasukannya tersebut berjalan dengan rapi. Untuk itu, tak menjadi masalah jika harus melewati lahan pertanian. 

Dari sini dapat disimpulkan bahwa seorang pemimpin dapat menerobos tanah, kebun, atau sawah milik rakyatnya demi kemaslahatan jihad. 

Mereka pun terpaksa melewati kebun milik seorang munafik yang tunanetra. Si munafik itu mengingatkan, "Jangan memasuki tanah ladangku!" 

Tentara kaum Muslim tidak mengindahkan peringatannya. Lelaki tunanetra itu meraup segenggam tanah liat seraya menyerapah, "Andai aku dapat melihat, niscaya aku akan lemparkan tanah ini ke wajah Muhammad." Salah satu sahabat meraih busurnya dan memukul muka lelaki itu hingga berdarah (HR. Bukhari).


Editor: faktaislam.com 

Ref: DR.Ahmad Hatta, MA. dkk. 

Kol: MagfiraPustaka

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar